AKHIRNYA, Puntadewa merasa tenang dan memasrahkan semuanya kepada kakaknya, Kresna, demi kelancaran perang.
Namun, ia tak bisa menghindari kecemasan bahwa perang ini akan membawa banyak korban.
"Apakah para dewa akan menghukum Pandawa atas tindakan ini, Kakak Prabu?" tanya Puntadewa kepada Kresna.
Kresna tahu Puntadewa masih gusar. Ia mencoba menenangkannya.
"Yayi Prabu, perang adalah jalan terakhir ketika diplomasi dan musyawarah tidak mencapai kesepakatan," ujarnya.
"Dalam hal ini, hanya dengan cara ini kita bisa menyelesaikan masalah. Soal dosa atau tidak, kita hanya bisa berusaha demi kebaikan dan kehidupan yang lebih baik," sambung Kresna.
Puntadewa memeluk Kresna.
"Aku serahkan semuanya kepadamu, wahai titisan Hyang Wisnu, dewa kebijaksanaan. Aku percaya bahwa Pandawa akan menemukan jalan yang terbaik."
Kresna tersenyum. Ia lalu menyuruh Bima untuk segera berangkat ke Tegal Kurusetra.
Pasukan Wirata bergerak dengan senjata lengkap, membawa pasukan berkuda, pemanah, dan gajah.
Tak lupa, anak-anak Pandawa juga ikut serta menuju medan perang.
Para dewa menyaksikan pergerakan Pandawa dan Kurawa, yang siap menghadapi perang suci, di mana setiap manusia akan menuai hasil dari apa yang telah mereka tanam. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani