DI sebuah pertapaan bernama Yasarata, Begawan Jayawilapa, ayah Dewi Ulupi, istri Raden Arjuna, sedang berbicara dengan Raden Irawan, anak Raden Arjuna dan Dewi Ulupi.
Irawan ingin bertemu dengan ayahnya, sesuai janji ibunya saat ia menginjak usia dewasa.
"Bu, aku sudah dewasa. Aku ingin menemui ayahku. Selama ini aku dibesarkan oleh kakek dan ibu tanpa tahu siapa ayahku," keluh Irawan, kepada sang bunda.
"Aku juga ingin seperti teman-temanku yang hidup didampingi ayahnya," imbuhnya.
Ulupi memandang ayahnya, Begawan Jayawilapa, seolah meminta restu untuk bercerita.
"Benar, cucuku. Ibumu sudah berjanji, tetapi ketahuilah, ayahmu, Raden Arjuna, sedang menghadapi tugas berat," jelas Begawan Jayawilapa.
Sang begawan memberi tahu Irawan bahwa ayahandanya akan menghadapi situasi hidup mati.
"Ia harus berperang melawan angkara murka," tuturnya.
"Aku mendengar ibu berkata bahwa tidak mudah diakui sebagai anak Raden Arjuna, benarkah itu, Eyang?" tanya Irawan.
Begawan Jayawilapa mengangguk.
"Benar, cucuku. Ada apa?"
Irawan dengan semangat menjawab.
"Itu adalah caraku agar diakui oleh ayahku. Aku akan membantu Pandawa dalam perang melawan musuh-musuhnya." (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani