"RAMA, kau tak akan mampu mengalahkanku! Aku adalah raja yang tak mudah ditundukkan. Bahkan para dewa sekalipun gentar menghadapi kekuatanku," seru Dasamuka.
Tak cukup sampai di situ, Dasamuka terus berkoar-koar dan menyombongkan diri. Ia ingin menjatuhkan mental sang lawan.
"Apalagi hanya seorang Rama Wijaya, raja para kera! Meskipun anak dan prajurit-prajurit andalanku telah gugur, jangan terlalu bangga karena telah menaklukkan Alengka!"
Rama Wijaya hanya tersenyum mendengar kata-kata Dasamuka, raja yang dikenal dengan kesombongan dan angkara murkanya.
Seumur hidupnya, Dasamuka tak ragu membunuh siapa saja yang menghalanginya.
"Jangan sombong, Rahwana. Mari kita buktikan di medan laga!" tantang Rama Wijaya.
Pertempuran akhirnya dimulai.
Para prajurit kera menyaksikan dengan penuh takjub, merasakan kegembiraan melihat kedua raja bertarung.
Pertarungan ini akan menentukan masa depan dunia. Para dewa pun turut menyaksikan dari kejauhan.
Dasamuka sangat sakti.
Meski berulang kali jatuh dan sekarat terkena panah Rama Wijaya, ia selalu bangkit kembali berkat ajian Pancasona pemberian Resi Subali.
Ia teringat pertarungannya dahulu dengan Subali.
Lalu, ia memanggil Anoman.
"Anoman, kemarilah dan dengarkan titahku!" seru Rama Wijaya yang mulai kehabisan tenaga. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani