Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Sinta Obong (4) - Pembuktian Cinta Satu Dasawarsa

Ki Damar • Jumat, 23 Agustus 2024 | 03:15 WIB
Ilustrasi cerpen lakon wayang Sinta Obong (AI GENERATED/CHAT GPT)
Ilustrasi cerpen lakon wayang Sinta Obong (AI GENERATED/CHAT GPT)

"KAKANDA, apakah kau tak percaya padaku?" tanya Sinta dengan air mata berlinang.

"Bukan begitu, Dinda. Lihatlah di luar sana, prajurit dan rakyat telah menunggu kita. Bagaimana mereka bisa percaya bahwa kau masih suci setelah sekian lama di Alengka?" kata Rama.

"Mereka akan kecewa jika mengetahui ibu negara mereka telah ternoda oleh Raja Angkara," sambungnya.

Sinta menangis, mencoba meyakinkan Rama.

"Aku tahu Rahwana sangat kuat dan sakti, namun dia tak pernah menyentuhku," kata Sinta, berusaha meyakinkan sang pujaan hati.

"Dasamuka memperlakukanku dengan baik di sini, dia tak akan menyentuhku jika aku sendiri tak merelakan diriku. Percayalah, Kakanda!" imbuhnya.

"Aku percaya padamu, Dinda. Aku hanya ingin menjaga kehormatanmu. Namun, aku juga ingin rakyat tahu bahwa kau memang pantas menjadi ibu negara," ujar Rama.

Seketika, Sinta berdiri. Tatapan matanya penuh keyakinan.

"Baiklah, Kakanda. Aku akan melakukan ritual obong."

"Apa maksudmu, Sinta? Jangan lakukan itu!" seru Rama panik.

"Jika setelah ritual obong ini aku tak mati terbakar, itu berarti aku masih suci. Namun, jika aku terbakar dan tak bangkit, berarti aku telah ternoda," kata Sinta dengan tegas.

Rama memegang tangan Sinta, "Jangan lakukan itu, dinda. Mana ada manusia yang selamat dari api?" (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#sinta #cerpen #Rama #Lakon #wayang