SELURUH Kerajaan Astina diliputi duka karena kelahiran anak Prabu Pandu dan Dewi Kunti yang terbungkus plasenta, tidak bisa dipecahkan senjata apapun.
Para Kurawa, meski berniat jahat ingin melenyapkan bayi tersebut, juga tidak mampu memecahkan bungkus itu.
Hingga akhirnya, ada wangsit dari dewata yang meminta agar bayi bungkus tersebut dibuang di Hutan Mandalasara.
Di Suralaya, Batara Guru memanggil Gajah Sena, putra Sang Batara yang berwujud gajah, untuk memecahkan bungkus tersebut.
Supaya si bayi bisa menjadi manusia sejati.
Dengan kekuatannya, Gajah Sena berhasil membuka bungkus sang bayi.
Namun, sang bayi yang merasa disakiti menjadi marah.
Alhasil, terjadilah perkelahian sengit antara Gajah Sena dan bayi itu.
Perkelahian berakhir dengan kekalahan Gajah Sena, namun rohnya merasuk ke dalam tubuh bayi tersebut, yang kemudian diberi nama oleh Batara Narada sebagai Bratasena. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani