SALINDRI tak tinggal diam. Ia berusaha menjelaskan dengan sabar.
"Maafkan saya, Sinuwun. Saya tidak bermaksud tak sopan. Namun, jika darah kakang Kangka jatuh di tanah Wirata, saya takut itu akan membawa bencana bagi negeri ini."
"Cukup! Jangan bicara yang tidak-tidak! Darah seorang lurah pasar saja bisa membawa bencana? Apa dia dewa? Pergilah, aku muak melihat kalian!" Prabu Matsapati marah.
Kangka dan Salindri pergi meninggalkan istana.
Tak lama kemudian, Raden Utara datang. Seketika, Prabu Matsapati memeluknya dengan penuh kebanggaan.
"Putraku yang hebat! Kelak, kau yang akan menggantikan ayah sebagai raja, bukan Seta atau Wratsangka. Sekarang ceritakan, bagaimana kau bisa mengalahkan Astina?"
Raden Utara bingung, tapi akhirnya ia berkata jujur.
"Ayah, sebenarnya yang mengalahkan pasukan Astina bukan aku."
Mendengar itu, Prabu Matsapati terkejut.
"Lalu siapa?"
"Yang mengalahkan Astina adalah Wrehatnala, Rama Prabu," jawab Utara.
Prabu Matsapati bingung dan marah,
"Bagaimana mungkin seorang waria mengalahkan para satria Astina?"
"Karena Wrehatnala sebenarnya adalah Arjuna yang sedang menyamar, Rama," jelas Raden Utara. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani