Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

LAKON WAYANG | Prabu Guruhandaya (1) - Sumpah Batari Durga

Ki Damar • Kamis, 12 September 2024 | 02:30 WIB
Ilustrasi cerpen lakon wayang Prabu Guruhandaya (AI GENERATED/CHAT GPT)
Ilustrasi cerpen lakon wayang Prabu Guruhandaya (AI GENERATED/CHAT GPT)

"BAGAIMANA bisa Paduka melupakan putra sendiri dan malah memilih Gatutkaca sebagai raja di Kahyangan Selakanda Warubinangun, Pukulun?" kata Batari Durga, kepada Batara Guru.

"Apakah Paduka lupa memiliki anak yang tampan dan lebih layak menjadi raja, yaitu Dewasrani? Gatutkaca hanyalah manusia biasa, berbeda dengan Dewasrani yang anak Paduka," sambungnya.

Penasehat dewa, Batara Narada, mencoba memberi saran.

"Pukulun, ingatlah bahwa Paduka sudah berjanji, sejak Gatutkaca mengalahkan Prabu Karungkala, untuk mewisudanya menjadi raja di Selakanda ketika ia dewasa," tuturnya.

"Sabda seorang raja atau dewa tak boleh dilanggar," lanjut Batara Narada.

Namun Batari Durga tidak menyerah.

"Pukulun, jika Paduka tetap memilih Gatutkaca, aku dan Dewasrani akan bunuh diri di hadapan Paduka," ujarnya.

"Kami akan mengutuk Paduka sebagai dewa yang tak bertanggung jawab terhadap anaknya sendiri. Apakah seorang dewa pantas berbuat seperti itu?" ancamnya dengan penuh emosi.

Batara Guru terdiam.

Bahkan Lembu Andini, yang setia di sisinya, tampak cemas mendengar sumpah Durga.

Akhirnya, Batara Guru memecah kebisuan.

"Baiklah. Dewasrani akan menjadi raja di Kahyangan Selakanda, asalkan ia bisa membawa Gatutkaca ke hadapanku, hidup atau mati."

Meskipun banyak dewa yang tidak setuju dengan keputusan itu, mereka hanya bisa diam. (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

 

 

Editor : Mizan Ahsani
#durga #cerpen #Gatutkaca #Lakon #wayang #batara