BIMA masih bingung.
"Bagaimana mungkin Sengkuni yang ia cintai, dan bukan Banuwati?" tanyanya.
"Yang memuliakan Duryudana sebagai raja Astina bukanlah Banuwati, tetapi Sengkuni. Itulah sebabnya ia lebih mencintai pamannya daripada istrinya. Jangan banyak bicara, segera bawa Sengkuni sekarang!" jelas Kresna.
Bima bergegas mencari mayat Sengkuni di medan perang yang luas, penuh dengan jasad prajurit yang gugur.
Namun, berkat petunjuk yang ditinggalkan Kresna, Bima berhasil menemukan jasad Sengkuni dengan cepat.
Saat Sengkuni didekatkan ke tubuh Duryudana, raja Astina itu dengan rakus melahap jasad pamannya.
Mereka berdua lalu tewas bersama.
"Lihatlah, seorang raja yang serakah bahkan bangkai pun dimakannya," kata Baladewa, dengan jijik.
Setelah Duryudana mati, tiba-tiba muncul seseorang mendekati tubuh Duryudana.
"Kakakku, sungguh malang nasibmu. Jika saja dulu kau mendengarkan nasihatku, perang ini tak akan pernah terjadi," kata pria misterius itu. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani