Ia tahu betul apa arti dari bendera itu.
Tandanya, Drupada alias Raden Sucitra, telah hadir.
"Ah, aku tidak akan melupakan bendera itu. Itu milik Prabu Drupada. Rupanya dia datang untuk menantangku!" ujar Durna dengan tawa sinis.
Durna mengenang masa mudanya ketika dia datang ke Pancala untuk memberi selamat pada Drupada yang telah menjadi raja.
Namun, alih-alih menerima dengan baik, Drupada mengusirnya.
Sejak saat itu, dendam terpendam dalam hati Durna.
"Manusia memang sering berubah saat memiliki jabatan," katanya.
"Ketika aku datang untuk menyampaikan selamat, dia bahkan tidak mengingatku sebagai saudara lama," sambung Durna dengan nada kecewa. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani