DENGAN hati yang membara, Durna segera menyiapkan diri untuk menghadapi Drupada.
Di medan perang, dua mantan saudara seperguruan ini bertemu lagi, kali ini tidak sebagai teman, tetapi sebagai musuh.
Pertarungan mereka bukan lagi latihan yang diawasi oleh guru mereka, Rama Bargawa.
Mereka sesungguhnya yang disaksikan oleh para dewa.
Di kahyangan, Batara Parasu (Rama Bargawa) merasa kecewa melihat kedua muridnya berperang satu sama lain.
Ia merasa sedih. Hatinya berkecamuk.
"Mengapa murid-muridku selalu berakhir dengan kematian yang tragis?" keluhnya kepada Narada.
Narada mencoba menenangkan.
"Ini bukan salahmu, Batara. Kamu telah mendidik mereka menjadi satria, tetapi mereka sendiri yang memilih jalan ini." (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani