PUTRA Dewi Kunti yang lahir dari hasil puja cipta Batara Bayu, hadir dalam wujud bungkusan liat yang tidak bisa dibuka siapa pun.
Bayi itu tumbuh di hutan Mandalasara tanpa makan atau minum, hanya menghirup udara.
Kisah ini berubah ketika Gajah Setu Sena, hewan klangenan Batara Indra, datang untuk membuka bungkusan tersebut.
Dengan kedua gadingnya yang kuat, Setu Sena berhasil merobek bungkusan itu dan melepaskan seorang bocah besar.
Ajaibnya, gading Setu Sena patah dan menyatu di jempol bocah itu.
Setelah itu, menjadi senjata sakti yang dikenal sebagai Kuku Pancanaka.
Dalam pagelaran wayang, kisah ini diangkat dalam lakon Bima Bungkus.
Filosofinya, "kuku" berarti keteguhan dalam keyakinan.
Kemudian "panca" melambangkan angka lima, sedangkan "naka" dapat merujuk pada tujuan atau moral kekuatan. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani