SEMANGAT Gatutkaca menyala.
Ia yakin bisa mengalahkan seorang resi tua.
Dengan segera, ia menuju Rapat Kepanasan dan membangunkan Resi Guritno dari tapanya.
“Berani sekali kau membangunkanku, anak muda! Apa maumu?” hardik Resi Guritna.
“Kematianmu ada di tanganku, Resi. Jika kau menginginkan kematian, hadapi aku dan jangan buat onar di kahyangan!” jawab Gatutkaca dengan percaya diri.
Resi Guritno tersinggung dan langsung menantang Gatutkaca untuk bertarung.
Pertarungan berlangsung lama, hingga hari kesepuluh tanpa tanda-tanda siapa yang akan menang.
Batara Narada yang menyaksikan dari kejauhan heran melihat betapa gigihnya kedua belah pihak, seolah mereka berdua masih muda.
Gatutkaca mencoba menyerang dari udara, tetapi setiap kali ia menyerang dari atas, seolah ada dinding tak terlihat yang membuatnya terpental.
Gatutkaca mulai merasa kewalahan dan lelah.
Melihat kondisi itu, Batara Narada merasa kasihan dan mendekati Gatutkaca.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani