DITYA Kunjanawresa telah tiba di Kerajaan Dwarawatiprawa menghadap kakak sulungnya, yaitu Prabu Kunjarakresna.
Ia melaporkan perihal Prabu Yudakala Kresna yang tewas di tangan jago kahyangan bernama Raden Narayana.
Prabu Kunjarakresna sangat marah mendengarnya.
Ia bersiap menyerang Kahyangan Suralaya untuk membalaskan kematian adiknya.
Namun, Raden Narayana alias Batara Kresna lebih dulu tiba di Kerajaan Dwarawatiprawa.
Ia segera menabuh Bende Pancajanya, mendatangkan gempa bumi yang membuat Prabu Kunjarakresna dan Ditya Kunjanawresa merasa pusing kehilangan daya.
Kedua raksasa itu lalu mengheningkan cipta sesaat untuk melawan pengaruh gaib kedua pusaka tersebut.
Begitu tenaganya pulih, Prabu Kunjarakresna langsung maju menyambar Batara Kresna.
Pertarungan sengit pun terjadi. Batara Kresna dapat menilai bahwa Prabu Kunjarakresna lebih sakti daripada Prabu Yudakala Kresna.
Maka, untuk mengimbanginya, ia pun membaca mantra Aji Balasrewu dan bertriwikrama menjadi raksasa pula.
Pertarungan kedua raksasa itu sungguh mengerikan.
Setelah cukup lama, barulah raksasa penjelmaan Batara Kresna berhasil menewaskan Prabu Kunjarakresna. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani