"BAGAIMANA bisa kamu tetap tenang di istana Pancala ini, cucuku Pancakusuma?" tanya Kertiwindu kepada Pancakusuma.
Kertiwindu adalah anak Patih Astina, Sengkuni, sedangkan Pancakusuma adalah cucu Puntadewa, anak dari Raden Pancawala.
"Memangnya kenapa, Eyang?" tanya Pancakusuma.
"Lihatlah kehidupan di Yuwastina. Adikmu, Parikesit, sangat tidak becus dalam mengelola pemerintahannya. Apakah kamu tidak kasihan kepada rakyat Yuwastina?" ujar Kertiwindu.
"Padahal, kamulah yang seharusnya duduk di singgasana itu, Pancakusuma," sambungnya, mencoba terus merayu cucunya.
"Duh, Kanjeng Eyang, aku sudah menerima menjadi raja di Pancala, ini juga kerajaan leluhurku," jawab Pancakusuma.
"Aku merasa pantas di sini, dan pastinya para leluhur kita telah mengukur kecakapanku," tambahnya.
Kertiwindu terus berusaha menghasut cucunya agar terjadi kerusuhan di antara keturunan Pandawa, karena dendam terhadap Pandawa yang membunuh ayahnya.
"Coba pikirkan lebih dalam lagi, cucuku," tambahnya dengan licik.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani