SETELAH itu, Narayana bersiap naik ke kereta pusaka Kyai Jaladara.
"Pukulun, aku ini seorang senopati. Apakah pantas maju perang tanpa kusir?" tanya Narayana sambil tersenyum.
Narada tampak bingung.
"Masa aku, seorang dewa, harus menjadi kusir?"
"Aku yang akan menjadi kusirmu, Kakang Narayana!" kata Permadi dengan tegas.
"Apakah kau tak malu menjadi kusir?" tanya Narayana.
"Tidak, Kakang. Menjadi kusir bagi senopati itu tugas yang mulia," jawab Permadi.
"Baiklah, adikku. Aku berjanji, kelak saat kau mengalami perang besar, aku yang akan menjadi kusirmu," kata Narayana.
Narada yang menyaksikan itu hanya tersenyum.
Maka mereka berangkat menuju Dwaraka, bersiap menghadapi Raja Yudwakala.
Pertempuran dahsyat pun terjadi.
Meskipun Narayana dan Permadi adalah titisan Hyang Wisnu yang sangat kuat, Narayana sempat terdesak.
Namun, Narada berteriak, "Permadi! segera pukul Kyai Panca Janma!"
Mendengar itu, Permadi memukul bende Kyai Panca Janma. Suaranya membuat Prabu Yudwakala Kresna terjatuh tak berdaya.
Narayana segera menghajarnya dengan cakra hingga sang raja tewas.
Batara Guru kemudian mewisuda Narayana dengan gelar Prabu Sri Batara Kresna, dan Udawa diangkat menjadi patihnya. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani