DI sebuah rapat istana Astina, Prabu Duryudana terkejut melihat kedatangan adiknya, Werkudara atau Bima, yang hadir tanpa pemberitahuan.
“Ada urusan apa kamu datang ke istana ini, Werkudara?” tanya Duryudana.
Dengan tegas, Bima menjawab, “Apakah kau bisa tenang duduk di singgasanamu itu, Duryudana? Kau raja yang serakah dan tak memikirkan saudaramu! Apa kau lupa bahwa tahta ini sesungguhnya milik kami, Pandawa?”
Duryudana, yang tersulut perkataan Bima, bangkit dan mendekatinya.
“Kenapa baru sekarang kau memprotes? Bukankah dulu kau sudah setuju dan menerima Alas Wanamarta sebagai ganti?” tanya Duryudana.
“Saat itu, kami belum sadar bahwa Pandawa harus menegakkan keadilan!” balas Bima.
Sengkuni, yang ada di dekat mereka, menyela, “Keadilan seperti apa yang kau maksud? Bukankah Resi Bisma sudah memberikan Alas Wanamarta sebagai ganti yang adil?”
Namun, Bima justru mendekati Sengkuni, membuatnya ketakutan.
“Keadilan yang kami maksud adalah Kurawa harus pergi dari Astina!” kata Werkudara tegas.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani