PARA pembesar di Astina seakan tak cukup telah membunuh Jayalaga alias Bratasena.
Mereka ingin membunuh sisa-sisa Pandawa.
Sementara itu, Raden Arjuna telah kembali usai menghadap Begawan Abiyasa di Retawu.
Dia diminta langsung berangkat menuju Astina. Sayangnya di tengah perjalanan, ia dihadang oleh seorang raksasa.
Pertarungan antara Arjuna dan sang raksasa tak terelakkan.
Tak disangka, raksasa tersebut adalah perwujudan Dewi Pujawati. Ia berduka karena Jayalaga, kakaknya, mati dibunuh Kurawa.
Dengan menghunus keris, Arjuna bergegas pergi menuju Astina.
Ia ingin menuntut balas kematian Bratasena.
Diiringi Semar, Gareng dan Petruk, Arjuna tiba di Astina.
Di sana, sang patih Sakuni datang membawa seorang anak bernama Bondan Peksajandu, cucu dari Batara Dawangnala.
Anak tersebut diperintahkan untuk mengangklat gada Jayalaga.
Tanpa diduga, pusaka tersebut berhasil diangkat si anak kecil.
Melihat itu, Durna segera memerintahkan Boncan Peksajandu untuk membunuh Yudistira.
Tak disangka, Bonda Peksajandu berubah wujud menjadi Raden Werkudara.
Mengamuklah Werkudara. Para Kurawa dihajar habis-habisan olehnya.
Kemarahan Werkudara baru dapat terhenti setelah Kresna datang dari Dwarawati. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani