Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Sandiwara Salya (4) - Pejamkan Mata Kalian

Ki Damar • Selasa, 5 November 2024 | 03:15 WIB
Ilustrasi lakon wayang Sandiwara Salya (AI GENERATED/CHAT GPT)
Ilustrasi lakon wayang Sandiwara Salya (AI GENERATED/CHAT GPT)

“CERDAS sekali kakak kalian itu. Tidak salah dia menjadi pamong para Pandawa,” kata Salya.

Sadewa dengan lirih bertanya, “Memangnya ada apa, uwak Prabu?”

“Ketahuilah, anakku. Besok setelah matahari terbit, uwak akan menjadi senopati di pihak Kurawa. Artinya, aku akan berperang melawan kalian,” jawab Salya.

Nakula dan Sadewa terdiam.

“Seharusnya kita tidak datang, ini sebuah pelanggaran. Bagaimana seorang musuh mendatangi senopati yang besok memimpin perang? Sadewa, kita pulang saja,” kata Nakula.

Salya memegang tangan Nakula dan menyuruhnya duduk kembali.

“Anakku, betapa rindunya uwak ini pada kalian. Ketika aku memeluk kalian, bau kalian sangat mirip dengan ibumu. Ibumu adalah adikku, dan ia telah tiada. Selama ini, aku sebagai uwak tidak bisa memberi kalian apapun. Aku terlalu fokus pada anak-anakku hingga lupa bahwa kalian juga anakku,” kata Salya, air mata mengalir di pipinya.

Salya terus mencurahkan isi hatinya.

“Aku tahu sekali Kresna mengutus kalian ke sini. Aku akan mewujudkan permintaannya sebagai hadiah untuk kalian, sebagai ganti cintaku pada adikku, Madrim, ibu kalian. Maka duduklah di depanku, pejamkan mata kalian, dan ikuti perkataanku. Itu akan menjadi perintah bagiku, anakku.”

(*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#nakula #sadewa #salya #Lakon #wayang