Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lanjutan Cerpen Lakon Wayang Perang Pamuksa, Part 3 Astina Punya Patih Baru

Ki Damar • Jumat, 8 November 2024 | 03:00 WIB
Ilustrasi cerpen lakon wayang Perang Pamuksa (AI GENERATED/CHAT GPT)
Ilustrasi cerpen lakon wayang Perang Pamuksa (AI GENERATED/CHAT GPT)

LAKON WAYANG | Perang Pamuksa (3) - Patih yang Baru

‘’APA maksudmu dengan perkataan ‘mengambil langkah’?’’ tanya Pandu, menatap Suman dengan serius.

‘’Begini, Sinuwun. Posisi Patih sekarang kosong karena Gandamana telah tewas, dikeroyok oleh bala tentara Pringgondani,’’ ujarnya.

‘’Maka, kita perlu segera mengisi posisi Patih dengan orang yang tepat untuk membantu menyelesaikan masalah besar ini,’’ sambungnya.

Suman lantas menjelaskan alasannya.

‘’Jika posisi Patih dibiarkan kosong, musuh akan dengan mudah menyerang kita,’’ jelas Suman, dengan suara yang penuh keyakinan.

‘’Lalu, siapa yang pantas menggantikan posisi Patih Astina?’’ tanya Destarata, memperhatikan Suman dengan tatapan tajam.

‘’Adakah keraguan padamu, Kakang Adipati?’’ Suman mengangkat alis, berusaha meyakinkan Destarata.

‘’Pertama-tama, aku setia pada Astina. Bahkan, aku seharusnya menjadi Raja di Plasajenar, namun aku memilih untuk mengabdi di Astina karena cintaku pada negeri ini,’’ kata Suman, dengan penuh keyakinan.

‘’Lalu, apa lagi yang telah kau lakukan untuk Astina, sehingga Sinuwun Pandu harus memilihmu menjadi Patih?’’ tanya Destarata, sedikit mencemooh.

‘’Bukankah sudah jelas, Kakang? Saya berani menghadap Raja Temboko Pringgondani dan mencoba melakukan negosiasi, meskipun itu gagal karena Gandamana menyerang mereka,’’ jawab Suman.

‘’Hal itu bisa saja membuatku menjadi korban di Pringgondani. Jika bukan aku yang bertindak, siapa lagi?’’ imbuh Suman, mencoba meyakinkan Destarata dan Pandu.

‘’Hmmm...’’ Destarata bergumam, berpikir sejenak.

‘’Memang, alasan yang disampaikan Suman tidak bisa diabaikan. Posisi Patih harus segera terisi, apalagi dalam keadaan darurat seperti sekarang ini, dengan ancaman perang yang mungkin terjadi.’’

Pandu terdiam sejenak, berpikir dalam-dalam, menarik napas panjang.

Wajahnya penuh pertimbangan. Setelah beberapa saat, akhirnya ia berkata, ‘’Baiklah. Mulai hari ini, aku tetapkan kau sebagai Patih Astina.’’

Pandu memberikan keputusan tegas, sementara Suman menundukkan kepala, menerima keputusan itu dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab.

(*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#suman #astina #patih #Lakon #wayang #Pandu