MANDURA diselimuti awan gelap, menandakan suasana suram di dalam istana.
Kerajaan sedang dilanda krisis karena Sang Kangsa telah mengetahui bahwa dirinya bukan anak kandung Prabu Basudewa dan kini berusaha melakukan kudeta.
"Anak Prabu, apakah Anda sudah mempertimbangkan ini dengan matang? Bagaimana bisa Anda ingin menurunkan tahta ayahanda?" tanya Paman Suratrimantra.
Ia khawatir dengan niat keponakannya.
Namun, Kangsa tidak menghiraukan sang paman, sebab ini adalah aksi balas dendam atas kematian ayahnya, Prabu Gurawangsa.
"Paman, tutup mulutmu! Bukankah Rama Prabu Gorawangsa itu kakakmu? Bagaimana bisa kamu merelakan kematiannya sia-sia?" desak Kangsa.
"Dia mengorbankan dirinya agar aku bisa menjadi raja di Mandura. Apakah kamu ingin berkhianat pada negara Goagura?" sambungnya, kini wajanya merah padam.
Suratrimantra merasa takut kepada keponakannya yang sakti dan kejam, yang tak segan-segan melukai siapapun.
"Aku tahu Rama Prabu tidak menaikkanku menjadi raja karena dia tahu aku bukan anaknya," kata Kangsa.
"Sekarang dia mencari cara agar anak-anaknya yang asli kembali ke Mandura untuk membantunya," lanjutnya, dengan nada penuh kekecewaan.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani