USAI meyakinkan pamannya, Kangsa bergegas ke Mandura untuk bertemu Prabu Basudewa.
Di istana, ramai pembicaraan tentang surat yang dikirim Kangsa yang mengajak adu jago dengan Kraton Kasepuhan, yaitu istana Mandura.
"Bagaimana, Arya Prabu? Apakah kau sudah mencari ayam yang bisa diandalkan?" tanya Raja Mandura.
"Kakanda Prabu, ayam yang Paduka inginkan bukanlah sembarang ayam. Dari surat yang dikirim oleh anak Paduka, ada makna kiasan, Kakanda!"
Basudewa baru sadar dan bertanya, "Lalu, apa maksud Kangsa dengan adu jago itu?"
Arya Prabu menjelaskan bahwa 'jago' di sini bukanlah ayam atau binatang, melainkan seorang manusia.
"Artinya, Kangsa ingin menggantikan 'jago' ini dengan manusia? Wah, ini tidak baik, Arya Prabu," ujarnya.
"Ini berarti seperti mengadu kekuatan antara Kraton Kasepuhan dan Kanoman. Antara Mandura dan Sengkapura," imbuh Arya Prabu.
Dia merasa curiga.
"Sepertinya ini siasat Kangsa yang segera harus kita hadapi. Bagaimana ini?" tanya Prabu, tampak mulai khawatir.
"Jika yang dimaksud adalah jago manusia, mengapa Paduka tidak meminta bantuan Paman Panembahan Abiyasa untuk meminta bantuan keponakan Paduka?" saran Ugrasena.
Basudewa bertanya, "Keponakanku siapa, Ugrasena?"
Sang adik bungsunya menyarankan Bima, anak Kunti dan Pandu. "Apa dasarmu memilih Bima, Ugrasena?" tanya Raja Mandura.
Ugrasena menjelaskan tentang kelahiran Bima yang baru saja bisa membunuh seekor gajah kadewata, apalagi sekarang yang telah berguru pada Patih Astina Gandamana.
Ia lantas pergi ke Pertapan Saptaharga meminta bantuan Pandita Abiyasa agar mengizinkan cucunya, Bima, membantu Mandura.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani