"KAKANG Udawa, jika kau meminta bantuan Raden Arjuna, kau tidak akan menemukan solusi. Dia tidak tahu betapa keras dan sulitnya hidup di Widarakandang. Bawalah aku ke Kakang Prabu Kresna, jangan andalkan suamiku. Dia hanya satria yang membela kebaikan keluarganya, bukan kebenaran sejati. Aku akan ikut denganmu, apapun risikonya, Kakang!" kata Subadra.
Udawa sangat terenyuh dengan perkataan Subadra, dan keduanya pun berangkat menuju Duwarawati.
Setibanya di sana, mereka mendapati Raja Duwarawati sedang berada di Wirata bersama Baladewa.
Mereka berdua meminta keadilan atas kebenaran Widarakandang, sebuah kebijakan yang tergantung pada Kresna.
Karena Wirata adalah negara tertua yang menyimpan semua catatan kerajaan.
"Apakah benar, Eyang Prabu, bahwa Widarakandang dahulu telah diberikan kepada Antagopa?" tanya Baladewa.
Matsapati menyuruh anaknya, Raden Utara, untuk mengambil buku Pustakaraja guna menelusuri kebenaran tentang Widarakandang.
Ketika buku dibuka, Matsapati berkata, "Di sini dikatakan bahwa Basudewa memberikan sejengkal tanah Mandura, yaitu Widarakandang, kepada Antagopa karena jasa merawat anak-anak Basudewa, itu yang tertulis di surat ini, Ngger."
Baladewa menyangkal.
"Lalu, apa bukti bahwa Widarakandang itu diserahkan? Bisa saja itu tulisan Demang Antagopa."
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani