INDRAJIT, yang juga dikenal dengan nama Megananda dalam pedalangan Jawa, adalah tokoh penting dalam cerita Ramayana versi Jogja sebagai putra mahkota negara Alengka.
Lahir dari Prabu Rahwana atau Dasamuka dan Dewi Tari—putri Bathara Indra dengan Dewi Wiyati—Indrajit tumbuh menjadi seorang prajurit yang sangat sakti dengan kepemilikan pusaka-pusaka legendaris seperti Panah Nagapasa, Senjata Rantai, dan Ajisirep Megananda.
Selain itu, Indrajit dikenal memiliki kereta perang yang unik, ditarik oleh raksasa berkepala singa bernama Yaksasinga, menambah kegarangan dalam setiap penampilannya di medan perang.
Watak Indrajit digambarkan sebagai sosok yang mudah naik darah, bengis, kejam, dan selalu ingin menang sendiri, sifat-sifat yang mempertegas perannya sebagai antagonis dalam epik.
Ketika terjadi perang besar Alengka, dimana negara itu diserang oleh balatentara kera di bawah pimpinan Prabu Rama untuk membebaskan Dewi Sinta, Indrajit mengambil peran sebagai senapati perang Alengka.
Salah satu momen penting dalam perang tersebut adalah duelnya dengan Jaya Anggada, saudara sepupunya sendiri, yang juga merupakan cucu Bathara Indra dan putra Resi Subali dengan Dewi Tara.
Keduanya, sama-sama sakti dan perkasa, bertarung dalam pertarungan yang seru dan dahsyat, yang bahkan menarik perhatian para dewa dan bidadari.
Pertarungan mereka, yang diwarnai oleh kemampuan magis dan taktik perang, akhirnya berakhir ketika Indrajit terbunuh oleh Laksamana, menggunakan panah sakti Surawijaya.
Kematian Indrajit tidak hanya merupakan puncak dari konflik antara kebaikan dan kejahatan dalam cerita Ramayana, tetapi juga menandai berakhirnya dominasi Alengka oleh Rahwana, mengubah arah cerita menuju resolusi yang mendamaikan.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani