TOKOH Batara Surya, menurut wayang versi Jogja, adalah dewa yang menerangi dunia dengan cahaya dan keadilan.
Sebagai anak ke-5 dari keluarga dewa, ia bersaudara dengan Sanghyang Wungkuan, Sanghyang Temboro, Sanghyang Kuwera, dan lain-lain.
Termasuk Sanghyang Yama dan Sanghyang Candra.
Batara Surya memiliki dua nama, termasuk nama lain Batara Wiwaswat yang mungkin kurang dikenal.
Ia tinggal di khayangan Ekacakra, sebuah tempat yang terkenal dengan keindahan dan ketenangan abadinya.
Batara Surya memiliki dua istri yang merupakan kakak beradik, Batari Ngruna dan Batari Ngruni.
Selain itu, ia juga dikenal memiliki hubungan dengan Dewi Kunti.
Dari Kunti, lahir Suryatmaja atau Adipati Karna, salah satu tokoh penting dalam epik Mahabharata.
Sebagai dewa matahari, Batara Surya bertugas menerangi Arcapada, memberikan kehidupan dan kesehatan kepada semua makhluk.
Sifatnya yang welas asih dan tenang membuatnya menjadi simbol keadilan dan kebaikan.
Ia tidak mudah marah, menjadikan dia sosok yang ideal dalam memimpin dan menyebarkan cahaya.
Selain itu, Batara Surya juga memiliki kisah di mana ia memberikan Cupu Manik Astagina kepada Dewi Indradi.
Pemberian ini memiliki akibat yang luar biasa di mana ketiga putra Dewi Indradi—Dewi Anjani, Subali, dan Sugriwa—berubah wujud menjadi kera.
Sebagai sosok yang dihormati dalam dunia pewayangan Jawa, Batara Surya tidak hanya merupakan penguasa hari, tetapi juga simbol dari keadilan dan kehidupan.
Melalui sosoknya, dipromosikan nilai-nilai seperti disiplin dan kemurahan hati yang menjadi pelajaran berharga bagi para penonton wayang.
Kekuatannya dan kepribadiannya yang mulia selalu menginspirasi dan memimpin dengan contoh yang baik bagi semua.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani