TOKOH Hyang Antaboga dalam versi wayang Jogja, adalah Dewa yang bersemayam di bumi lapis ketujuh, dikenal sebagai Saptapratala.
Berbeda dengan kepercayaan yang umum, istana Antaboga di kedalaman bumi ini digambarkan setara dengan kemegahan istana para Dewa di Suralaya.
Hal ini menunjukkan bahwa keagungan bisa ditemukan bahkan di tempat yang paling tidak terduga.
Sebagai dewa ular, Hyang Antaboga memiliki kemampuan unik untuk berubah rupa menjadi ular naga, sebuah simbol kekuatan dan mistisisme.
Dia tidak hanya terbatas pada satu bentuk, melainkan dapat berubah sesuai dengan suasana hati dan kebutuhan, terutama saat marah, ia mengambil bentuk naga yang menakutkan.
Hyang Antaboga dikenal dengan ciri khasnya yang mencolok. Mata kedondong, wajah yang lengkap dengan hidung dan mulut.
Penampilannya tampak mengesankan dengan topong mahkota, jambang, jenggot, dan pakaian dewa lengkap termasuk selendang dan sepatu.
Penampilan ini tidak hanya mencerminkan statusnya sebagai dewa tetapi juga mengesankan wibawa dan kekuasaan.
Lebih dari sekedar dewa dengan penampilan yang mencolok, Hyang Antaboga juga dikenal sebagai pendidik para ksatria.
Tokoh wayang ini membimbing para ksatria untuk mencapai kemampuan tertinggi mereka, mengajarkan bukan hanya keterampilan fisik tetapi juga nilai-nilai spiritual yang mendalam.
Antaboga juga memiliki kekuatan luar biasa dengan upas atau bisa yang mematikan, memungkinkannya untuk mengalahkan lawan-lawannya dengan cepat.
Hyang Antaboga tak hanya menambah kedalaman pada kisah pewayangan tetapi juga mengajarkan banyak hal dalam kehidupan.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani