KEMATIAN Gohmuka di tangan Prabu Dasamuka, raja Alengka, telah menimbulkan gelombang kegusaran di kalangan para punggawa dan pejabat kerajaan.
Gohmuka, yang diutus sebagai duta Prabu Danapati dari Lokapala untuk mendamaikan dan mengingatkan Rahwana agar menghentikan kekacauan yang diakibatkan oleh amarahnya, malah berakhir tragis.
Pembunuhan ini terjadi di istana yang penuh sesak dengan punggawa, menjadi saksi bisu atas tindakan brutal tersebut.
Gunawan, adik bungsu Dasamuka, dengan penuh keberanian berdiri dan bersuara di tengah keheningan yang menyesakkan.
"Aduh kaka Prabu, Gohmuka adalah seorang duta atau utusan. Bila kau membunuh seorang duta, sama saja paduka melawan seorang raja. Ini akan menimbulkan kericuhan dan perpecahan!" serunya.
Ia mencoba menanamkan akal sehat dalam pikiran sang raja yang sedang diliputi emosi.
Kumbakarna, punggawa setia yang juga adik Dasamuka, ikut serta dalam upaya meredam kemarahan kakaknya.
"Iya kakak, terlebih Gohmuka adalah kepercayaan kaka prabu Danapati. Bila ia salah faham, pasti dia akan bertindak. Ingat kaka prabu, Raja Lokapala masihlah saudara tua kita," ujar Kumbakarna.
"Alangkah baiknya kita meminta maaf atas kejadian ini, sehingga tidak menimbulkan keributan," imbuh Kumbakarna, mencoba membuka mata Dasamuka tentang potensi bahaya dari perbuatannya.
Namun, Dasamuka, yang kebanggaannya telah mendungkan penglihatannya terhadap konsekuensi tindakannya, menanggapi dengan keras.
"Apa kamu bilang? Aku harus minta maaf? Sejak kapan Dasamuka merendahkan dirinya di hadapan orang lain. Bahkan dewa saja takut pada diriku, kenapa kau khawatir pada kakang Danapati?" tanya Dasamuka.
"Apa kalian memihak mereka, hem? Bila begitu pergilah, bahkan bila kalian bersatu dengan dia, kalian juga tak akan mampu mengalahkanku!" sambungnya, dengan penuh keangkuhan.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani