KERAJAAN Gilingwesi yang dipimpin oleh Prabu Tuguwasesa sangat berhasrat menaklukkan Kerajaan Astina.
Dengan ambisi ini, Prabu Tuguwasesa memerintahkan putranya, Antasena, serta seluruh balatentaranya untuk bergerak menuju Astina dan memulai penyerangan.
Setibanya di Astina, kekuatan mereka tampak begitu besar sehingga Prabu Suyudana, raja Astina, tidak mampu menahan serangan tersebut.
Suyudana terpaksa melarikan diri bersama Dewi Banowati.
Tragisnya, Karna dan istrinya, Surtikanti, juga ditangkap dan dipenjara kembali di Gilingwesi.
Di tengah pelarian, Suyudana mengalami luka dan terkapar di bawah pohon beringin dalam sebuah hutan.
Nasibnya berubah ketika Arjuna, Gatutkaca, Angkawijaya, Samba, dan Setyaki secara tak terduga tiba dan memberikan pertolongan.
Mereka kemudian membawa raja dan ratu Astina ke Mandura untuk mencari perlindungan.
Tak lama setelah itu, raksasa-raksasa utusan Antasena mencoba menyerang, namun berhasil dihalau oleh Angkawijaya dan Gatutkaca.
Mengetahui kegagalan dan kematian tentaranya, Antasena dengan berani maju ke medan perang.
Namun, takdir berkata lain saat ia terkena panah Arjuna dan terlempar jauh.
Sementara itu, di Gilingwesi, Angkawijaya berhasil memikat hati Antawati, adik Antasena.
Arjuna juga berhasil membebaskan Adipati Karna dan Dewi Surtikanti.
Lebih dari itu, Arjuna berhasil memikat hati para istri raja, meliputi Dewi Nawangsih, Nawang Wulan, Nawang Kencana, dan Nawang Resmi, lalu membawa mereka ke Mandura.
Dalam sebuah kejadian dramatis, Arjuna melepaskan panah ke mahkota Tuguwasesa, yang kemudian berubah wujud menjadi Bima, sementara Anoman kembali ke Kendalisada.
Antasena, yang terlempar tadi, akhirnya dipeluk oleh Gatutkaca yang ternyata adalah saudaranya, menyatukan kembali ikatan keluarga yang sempat retak karena perang.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani