HARI ke-18 perang Baratayudha telah tiba, situasi semakin genting bagi pihak Kurawa.
Dengan pasukan yang hampir musnah, hanya tersisa Sengkuni dan Duryudana yang masih berjuang.
Dalam keputusasaan ini, Sengkuni mendapatkan dukungan dari dua adiknya, Hanggajaksa dan Surabasah, yang diangkat menjadi senopati pengapit.
Meskipun kekuatan pasukan mereka terbatas, keyakinan mereka tidak pudar.
"Saudara-saudaraku, kalian harus melindungi aku di medan pertempuran. Ingat, nyawaku lebih berharga daripada kalian semua," kata Sengkuni.
"Akulah yang telah membawa kemakmuran ke Plasajenar," sambungnya.
Hanggajaksa mencoba menenangkan kakaknya dengan kata-kata yang meyakinkan.
"Tenang, Kakang Patih, kami tidak akan melupakan budi baikmu. Kami akan melindungimu, apapun yang terjadi nanti di Kurusetra," ujarnya.
"Prajurit Plasajenar mungkin tidak banyak, namun setiap dari mereka adalah prajurit terpilih yang siap berjuang mati-matian," sahut Surabasah.
Sengkuni merasa tenang mendengar kata-kata Hanggajaksa dan Surabasah.
"Bagus, jika itu sikap kalian. Tugas kalian adalah membantu senopati utama ketika keadaan menjadi genting," kata Sengkuni.
"Target kita adalah menemukan dan mengalahkan Yudhishtira. Jika ia gugur, kemenangan akan berada di tangan kita," imbuhnya.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani