TOKOH wayang Dewi Sinta merupakan putri dari Prabu Janaka, raja dari negara Mantili atau Mitila.
Ia adalah sosok yang sangat penting dalam kisah wayang, termasuk versi Jogja.
Sinta dianggap sebagai titisan Batari Sri Widowati, yang merupakan istri dari Batara Wisnu.
Dewi Sinta terkenal dengan kecantikannya yang memikat serta sifatnya yang sangat setia, jatmika (luhur), dan suci trilaksita yang berarti kesucian dalam ucapan, pikiran, dan hati.
Dewi Sinta menikah dengan Ramawijaya.
Itu setelah Ramawijaya berhasil memenangkan sayembara yang meminta para peserta untuk mengangkat busur Dewa Siwa.
Dari pernikahan mereka, Dewi Sinta dikaruniai dua putra, Lawa dan Kusya.
Dengan kesetiaan yang mendalam, Dewi Sinta mengikuti suaminya menjalani masa pengasingan.
Namun, karena terpesona oleh keindahan Kijang Kencana—penjelmaan Ditya Marica—ia diculik oleh Prabu Dasamuka dan ditawan di Argasoka, Alengka, selama hampir 12 tahun.
Setelah periode panjang ini, ia berhasil dibebaskan oleh Ramawijaya, yang mengalahkan Prabu Dasamuka dan seluruh senapati Alengka.
Meskipun memiliki peran penting sebagai permaisuri di istana Ayodya, Dewi Sinta tidak lama tinggal di sana karena kecurigaan Ramawijaya terhadap kesuciannya.
Padahal ia telah membuktikan kesuciannya melalui ujian api di Alengka.
Akhirnya, Dewi Sinta diasingkan dari istana dan menetap di pertapaan Resi Walmiki, tempat ia melahirkan kedua putra kembarnya, Lawa dan Kusya.
Kisah hidup Dewi Sinta berakhir tragis ketika ia ditelan bumi saat akan kembali diarak ke istana Ayodya.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani