DALAM keadaan marah yang memuncak, Abimanyu terus memukuli Kalabendana.
"Sungguh tega kau, Paman! Aku hanya menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Kasihan Siti Sundari, istriku menantimu di Pringgondani," katanya.
Kalabendana hanya bisa menangis, menyadari betapa dalamnya kesedihan yang dirasakan oleh Siti Sundari karena tingkah laku Abimanyu yang telah berubah.
"Sabar, Abimanyu! Apa yang terjadi ini?" tanya Gatutkaca yang datang untuk melerai.
Abimanyu, dengan emosi yang masih membara, menjawab, "Kakang mas, jika kau tidak bisa membuat Paman Kalabendana diam, aku tak ingin lagi dianggap sebagai adikmu!"
Dalam keadaan yang semakin memanas, Kalabendana malah berteriak semakin keras.
"Kita harus kembali, Nyu! Istrimu menunggumu, menangisimu. Mengapa kau tega menikah lagi di sini?"
Abimanyu, yang sudah kehilangan kesabaran, menoleh kepada Gatutkaca.
Namun Gatutkaca, dalam refleksnya, terlalu kuat menekan leher Kalabendana untuk membungkamnya.
"Diam, Paman! Kita berada di Wirata, jika ketahuan Abimanyu sudah menikah lagi, apa jadinya?" ucapnya dalam upaya meredam situasi.
Namun, ketika Gatutkaca melepaskan cengkeramannya, Kalabendana ambruk ke tanah tanpa nyawa.
Dalam kepanikan dan penyesalan yang mendalam, Gatutkaca berteriak, "Paman Kalabendana!!!"
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani