DALAM suatu pertandingan ketangkasan yang mempertemukan para Pandawa dan Kurawa, kemampuan Arjuna mencuri perhatian semua yang hadir, membuat para Kurawa gelisah dan iri.
Di tengah kekaguman terhadap Arjuna, Basukarna, yang tidak tahan melihat Kurawa kalah terus, dengan berani memasuki arena dan menantang Arjuna untuk berduel.
Namun, intervensi Resi Krepa menghentikan tantangan Basukarna. Acara tersebut, dijelaskan Resi Krepa, hanya terbuka untuk mereka yang berstatus ksatria.
Duryudana, anak tertua Kurawa, mempertanyakan kepada Resi Krepa tentang apa sebenarnya kualifikasi seorang ksatria.
Resi Krepa menjelaskan bahwa ksatria harus dari keturunan bangsawan, memiliki ilmu, keberanian, kepandaian, dan kejujuran, serta didukung oleh bala tentara.
Menyadari bahwa Basukarna memiliki potensi untuk membalikkan kelemahan Kurawa dalam pertandingan, Duryudana segera mengangkat Basukarna menjadi Adipati Awangga.
Posisi tersebut memberikannya status bangsawan.
Bagi Basukarna, yang sebelumnya hanyalah anak seorang kusir, pengangkatan ini terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
Basukarna bersumpah untuk setia kepada Duryudana dan membela Astina, meski tidak menyadari bahwa Duryudana menggunakan kesetiaannya untuk kepentingan pribadi.
Termasuk dalam usahanya mempertahankan tahta Astina yang direbutnya.
Kisah Basukarna menonjol sebagai contoh keberanian dan kesetiaan yang dimanfaatkan oleh mereka yang berkuasa.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani