"YANG melamar adalah Kakanda Prabu Baladewa," kata Burisrawa dengan penuh keyakinan.
Salya, yang berdiri mendekati anaknya, bertanya, "Kenapa harus Raja Mandura yang melamar?"
Burisrawa meyakini jika lamaran datang dari kakaknya sendiri, pasti akan diterima, sebab itu adalah permintaan dari Prabu Salya, mertua Baladewa.
"Saya yakin Kakanda Prabu Mandura akan merasa tidak enak bila tidak membantu, mengingat dia adalah menantumu, Ayah," jawab Burisrawa.
"Aku juga akan meminta Kakang Mbok Erawati, istrinya, untuk merayu Kakanda Prabu Baladewa agar merestui hubunganku dengan Subadra," imbuhnya.
Burisrawa terus menjelaskan rencananya dalam menggaet hati Subadra.
"Serta, aku akan ke Astina memohon Kakang Mbok Banowati ikut merayu Prabu Baladewa," jelas Burisrawa dengan strategi yang telah dipikirkan matang.
"Kenapa harus sampai ke Astina? Dan apa hubungannya dengan Duryodana?" tanya Prabu Salya, mencari kejelasan.
"Karena Raja Mandura selalu tidak bisa menolak permintaan dari Raja Astina," jawab Burisrawa dengan penuh keyakinan.
Prabu Salya mengambil napas dalam dan memegang tangan istrinya, Dewi Pujawati, yang menatapnya dengan penuh harapan.
"Baiklah Burisrawa," ujar Prabu Salya, "Aku akan mencoba berbicara dengan Raja Mandura. Namun, ingatlah, semua ini hanya usaha kita," tuturnya.
"Serahkan hasil akhir pada takdir. Jika Subadra memang jodohmu, maka tak ada yang bisa menghalangi. Jika tidak, kamu harus bisa menerima kenyataan itu," sambung Salya.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani