BIMA, yang memiliki sifat-sifat gagah berani, teguh, dan jujur, adalah tokoh yang menonjol dalam dunia wayang.
Sikap tokoh wayang ini begitu egaliter. Ia selalu menganggap semua orang sama, tanpa membedakan derajat sosial.
Keunikan lain dari Bima adalah cara berbicaranya yang selalu lugas dan tidak menggunakan bahasa halus (krama inggil).
Ia juga terbiasa duduk sejajar dengan lawan bicara, tidak peduli siapa mereka.
Pakaian Bima tidak hanya menggambarkan kebesarannya tetapi juga menggambarkan nilai-nilai yang dia anut.
Dia mengenakan Gelung Pudaksategal dan Pupuk Jarot Asem.
Busananya juga dilengkapi dengan Sumping Surengpati dan Kelatbahu Candrakirana, serta ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga.
Bima dianugerahi beberapa perhiasan dewata yang mencerminkan kemuliaan dan kekuatannya.
Termasuk Kampuh Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, dan lainnya.
Kisah Bima sebagai murid Batara Bayu bermula dari saat ia dilahirkan.
Batara Bayu sendiri yang mempersiapkan pakaian untuk Bima sejak ia masih dalam kandungan, yang menjelaskan kedekatan unik antara mereka.
Kemiripan karakteristik antara Bima dan Batara Bayu menunjukkan pengaruh kuat gurunya dalam membentuk kepribadian serta kekuatan Bima. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani