BATARA Bayu, dikenal sebagai Sang Hyang Bayu, adalah Dewa angin dalam cerita wayang.
Putra Batara Guru ini memiliki kekuatan yang luar biasa dalam mengendalikan angin dan berperan penting dalam menyeimbangkan alam semesta.
Ciri khasnya adalah mengenakan kain poleng (berkotak-kotak) dan memiliki kuku pancanaka pada ibu jarinya, simbol dari kekuatan angin yang ia kuasai.
Hyang Bayu memiliki lima saudara tunggal bayu yang juga berkekuatan angin.
Mereka dikenal cepat dalam pergerakan, seringkali diiringi oleh angin puyuh yang menandai kehadiran mereka.
Dalam lakon "Begawan Palasara Krama," Batara Bayu berperan sebagai pemisah dalam perselisihan antara Palasara dan Sentanu, yang memperebutkan kemuliaan.
Batara Bayu menengahi dengan memutuskan bahwa Sentanu akan mencari kemuliaan di Marcapada (dunia) dan Palasara di Kahyangan (akhirat).
Selain peran tersebut, Batara Bayu sering turun ke Marcapada sebagai pemisah dalam berbagai perselisihan, terutama menjelang Perang Baratayuda.
Saat perang tersebut semakin mendekat, para dewa turun ke negara Astina untuk mencoba memisahkan Pandawa dan Kurawa yang bersengketa.
Batara Bayu ikut serta dalam upaya ini, namun, meskipun dengan semua kekuatan dan daya upaya para dewa, perang tetap tidak dapat dihindari dan akhirnya pecah.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani