RESI Bisma, generasi keenam wangsa Kuru, adalah sosok yang dedikasinya tak tergoyahkan demi dharma dan kestabilan Astina.
Ia merupakan contoh tokoh wayang paling setia.
Hal itu ia tunjukkan dalam setiap konflik internal mengancam keharmonisan kerajaan.
Bisma terkenal dengan integritasnya yang tinggi; ia berbakti kepada ayahnya, sangat menyayangi keluarga, dan selalu memegang teguh janji yang telah dibuat.
Bisma mengorbankan kesempatan untuk naik tahta demi memastikan ayahnya, Prabu Santanu, dapat menikah dengan Dewi Setyawati, yang dijadikan syarat oleh Dewi Durgandini agar bersedia menjadi ratu.
Ia mengambil sumpah brahmacari, berikrar untuk tidak menikah dan menjalani kehidupan yang suci, sebuah tindakan yang mendapatkan pengakuan dan anugerah dari para dewa.
Akibatnya, ia tidak akan mati kecuali atas kehendaknya sendiri.
Meskipun tinggal di Kesatrian Talkanda yang masih berada di wilayah Astina, Bisma sering kali berada dalam situasi dilematis, terutama saat menjadi penasehat bagi cucunya, Duryudana.
Bisma memberikan nasihat yang bijaksana, namun sering kali saran-sarannya diabaikan oleh Duryudana yang lebih memilih mendengarkan rayuan licik Raden Sengkuni dari Plasajenar.
Keberadaan Bisma sebagai penasehat, menggambarkan bagaimana kebijaksanaan dan kebenaran sering kali harus berjuang dalam menghadapi ambisi dan kekuasaan yang buta.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani