SANG Prabu Baladewa, dikenal juga dengan nama Kakrasana di masa mudanya, adalah salah satu figur penting dalam kisah Mahabharata.
Sebagai putra dari Prabu Basudewa dan Dewi Mahendra, Baladewa mempunyai keahlian luar biasa dalam mengolah senjata gada.
Keahlian ini membuat sang tokoh wayang menjadi guru bagi para ksatria besar seperti Bima dan Duryudana.
Prabu Baladewa juga dikenal memiliki dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, keduanya hadiah dari Bathara Brahma, yang menambah kekuatannya dalam peperangan.
Kendaraan perangnya, gajah Kyai Puspadenta, semakin melengkapi citra keperkasaannya dalam dunia wayang.
Sebagai pendeta bergelar Wasi Jaladara di pertapaan Argasonya, Baladewa menikahi Dewi Erawati, putri Prabu Salya dan Dewi Setyawati dari negara Mandaraka.
Dari perkawinan itu ia dikaruniai dua putra, Wisata dan Wimuka.
Baladewa tidak hanya dikenal sebagai ksatria, tetapi juga sebagai titisan Sanghyang Basuki, simbol keselamatan.
Setelah Perang Bharatayuda, Baladewa memegang peran vital sebagai penasehat untuk Prabu Parikesit, raja Astina.
Dengan gelar Resi Balarama, ia memberikan bimbingan hingga akhir hayatnya, di mana ia moksa, meninggalkan seluruh Wangsa Yadawa.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani