SANG Prabu Duryudana, putra sulung Prabu Drestarastra dan Dewi Gandari, adalah sosok yang memerintah Astina dengan sebutan Kurupati karena statusnya sebagai pemimpin tertua dari keluarga Kurawa, keturunan klan Kuru.
Ia juga dikenal dengan berbagai nama lain, seperti Detaputra, Gendarisuta yang berarti anak Dewi Gandari, Jakawitana, dan Suyudana.
Duryudana memiliki watak yang jujur namun sering kali mudah terpengaruh dan memiliki kecenderungan untuk menikmati kemewahan.
Ia adalah seorang ahli dalam menggunakan gada dan dikenal dengan ketangguhan fisik yang luar biasa, berkat penggunaan Minyak Tala yang membuat tubuhnya kebal terhadap serangan berbagai senjata.
Gada kesayangannya dikenal dengan nama Gada Inten atau Singo Barong, senjata yang menjadi simbol kekuatannya dalam pertarungan.
Kesaktian Duryudana teruji saat ia gugur dalam pertempuran epik Batarayudha, di mana ia menghadapi Bima.
Dalam duel sengit tersebut, tubuhnya hancur oleh hantaman Gada Rujakpala milik Bima.
Kemahirannya dalam memainkan gada tidak lepas dari pendidikan yang ia terima dari Prabu Baladewa, raja Mandura, yang juga mengajarinya seni bela diri ini.
Kematian Duryudana dalam perang Batarayudha menandai akhir dari peranannya sebagai seorang pejuang satria yang terampil dengan gada.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani