JAYADRATA, putra Prabu Sempani dengan Dewi Drata dari kerajaan Sindu, menikah dengan Dewi Dursilawati, putri Prabu Drestarasta dari Astina, dan menjadi Adipati Banakeling.
Pasangan ini memiliki dua putra, Arya Wirata dan Arya Surata.
Jayadrata dikenal karena kepribadiannya yang berani dan penuh kesungguhan serta kemahirannya dalam memanah dan bermain gada.
Resi Sapwani memberinya pusaka gada bernama Kyai Glinggang.
Dalam perang besar Baratayudha, Jayadrata berperan sebagai senapati perang Kurawa.
Ia menjadi sasaran kemarahan Arjuna yang putranya, Abimanyu, gugur di tangan Jayadrata.
Arjuna bersumpah akan membunuh Jayadrata sebelum matahari terbenam atau akan membakar diri sendiri.
Dalam momen kritis, Kresna, khawatir akan nasib Arjuna, mengelabui semua orang dengan menutupi matahari menggunakan senjata cakra, sehingga terlihat seperti matahari telah terbenam.
Jayadrata, keluar dari persembunyiannya untuk melihat Arjuna menepati sumpahnya, tetapi terkejut menemukan Arjuna sudah bersiap dengan panahnya.
Dalam sekejap, Arjuna memanah dan memenggal kepala Jayadrata, memenuhi sumpahnya dalam keadaan yang dramatis.
Kisah ini menunjukkan tingkat tragedi dan konflik emosional yang mendalam, menggambarkan betapa perang Mahabharata membawa kesedihan dan kehancuran, bahkan di antara para pahlawan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani