Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
SEMENTARA itu Di desa Manahilan, Ki Demang Ijrapa tenggelam dalam kecemasan.
Sebagai kepala desa, ia diberi tanggung jawab untuk menyediakan sesaji yang akan dijadikan makanan bagi Prabu Baka.
Tugas ini membuatnya sangat terbebani. Dengan hati yang berat, ia memutuskan untuk berjalan-jalan ke pasar, berharap menemukan solusi.
Sambil berjalan, Ki Demang Ijrapa merenung.
"Ya Tuhan, betapa berdosanya aku, seorang pemimpin yang seharusnya melindungi warganya, malah mencari korban untuk mengenyangkan raja yang dzolim," ucapnya.
"Apakah aku masih pantas disebut sebagai pemimpin jika aku mengorbankan rakyat demi keselamatan diri sendiri?" sambungnya, dengan penuh penyesalan.
Di tengah keramaian pasar, tiba-tiba seorang wanita yang tampak agung.
Ia diikuti oleh lima anak laki-laki. Mereka perlahan mendekati Ki Demang Ijrapa.
Wanita tersebut berkata, "Wahai tuan, apakah Anda kepala desa Manahilan? Saya tanya para pedagang dan mereka bilang Anda adalah pemimpin di sini."
Terkejut, Ki Demang Ijrapa mencoba menjawab si perempuan.
"Ya, benar saya. Tapi, siapakah Anda, Nyai?"
"Ibu ini adalah Dewi Kunti, dan anak-anak yang ada di belakangku ini adalah anak-anakku, para Pandawa," tutur Dewi Kunti.
"Kami memohon izin untuk menginap di rumah Anda, sebab hingga kini kami belum menemukan tempat berteduh," imbuhnya, dengan nada sopan.
Ki Demang Ijrapa terkejut mendengar nama yang tidak asing itu.
"Lho, Paduka Dewi Kunti, istri almarhum Prabu Pandu Dewanata, raja Astina?" tanyanya, tidak yakin.
Perasaan takjub dan kehormatan segera menyelimuti hatinya saat menyadari siapa tamu-tamunya itu.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani