Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar *
DI medan perang Baratayudha Jaya Binangun, kekacauan menguasai pertempuran.
Baru setengah hari berlalu, pasukan Kurawa yang dipimpin Resi Durna sudah terpaksa mundur dari Tegal Kuru Setra.
Sorak-sorai prajurit Pandawa bergema, menyerukan mundurnya lawan.
Di kejauhan, Arjuna yang baru saja kembali dari duelnya melawan Bogadenta, terkejut.
Dia mendapati suasana yang seolah menandakan berakhirnya pertarungan lebih cepat dari yang seharusnya.
"Hai, prajurit! Mengapa kalian mundur? Bukankah masih siang?" tanya Arjuna bingung.
Seorang prajurit buru-buru menjawab, "Wahai Raden, Prabu Basukarna menganggap kejatuhan Raden Abimanyu ibarat tenggelamnya matahari."
"Dan untuk itu barisan Kurawa mengundurkan diri sebagai penghormatan kepada sang Senopati muda," lanjut prajurit itu.
Mendengar penjelasan tersebut, Arjuna diliputi kemarahan. "Jika kau berdusta, aku bersumpah mayatmu akan tergantung di atas bendera!" ancamnya.
Prajurit itu pun melarikan diri dalam ketakutan.
Kegelisahan menyelimuti Arjuna, "Apa yang sebenarnya terjadi? Abimanyu, anakku, tidak mungkin... Ini haruslah mimpi buruk. Kaka Prabu Kresna, di manakah engkau?"
Dengan langkah gontai namun penuh kekuatan, Arjuna berlari menuju pesanggrahan Gupalaya.
Air mata menetes di pipinya, seolah tak rela menerima kenyataan yang mungkin menunggunya.
Harapannya besar, semoga berita yang disampaikan prajurit tadi hanyalah kepalsuan.
Namun, begitu tiba, Arjuna terpaku menyaksikan kebulang kayu bakar yang melahap jasad seorang satria, memecah hening dengan kenyataan pahit yang tak terelakkan. (*/cor)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Andi Chorniawan