Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
MATA Arjuna memerah, tak satu kata pun mampu terucap dari bibirnya; hanya air mata yang mampu mewakili kepedihan hatinya.
"Maafkan ayahmu, hai anakku," gumam Arjuna seraya menunduk, berbicara kepada bayang-bayang kenangan tentang putranya.
"Ayahmu telah menuruti nafsu dan tipu daya Bogadenta yang membawaku menjauh dari Tegal Kuru, sehingga mereka dapat membunuhmu. Andai aku ada di sini, tragedi ini pasti takkan terjadi."
Sri Kresna, dengan lembut, mengajak Arjuna untuk bersabar dan menerima takdir yang telah terjadi.
"Kaka Prabu, siapakah yang telah membunuh Abimanyu?" tanya Arjuna dengan nada yang penuh emosi.
Sri Kresna menatap dalam ke wajah Arjuna, melihat bara kemarahan yang menyala.
"Yang telah mengakhiri hidup anakmu adalah Raja Sindu, Jayadrata."
Di depan api yang membakar tubuh Abimanyu, Arjuna mengangkat sumpah.
"Di hadapan api yang membakar tubuh anakku, aku bersumpah," katanya dengan tegas.
"Arjuna, janganlah kau bersumpah dalam keadaan marah. Itu tak akan membawa kebaikan," kata Puntadewa mencoba menenangkan.
Namun Arjuna tetap pada keputusannya, "Ini harus kulakukan agar Abimanyu mendengar bahwa ayahnya tidak akan membiarkan tanpa pembalasan."
"Jika hingga besok sore Jayadrata belum kubunuh, maka aku akan menyusul Abimanyu."
"Aku bersedia mati terbakar." Pernyataan ini mengejutkan semua yang mendengarnya.
Berita tentang sumpah Arjuna itu cepat menyebar ke kubu musuh.
Prabu Duryudana, mendengar kabar tersebut, segera mengambil keputusan.
"Besok, Jayadrata harus bersembunyi hingga malam, agar Arjuna menemui ajalnya," ucapnya dalam pertemuan dengan para sekutunya.
Dengan penuh kemenangan, mereka merayakan kejadian yang telah menewaskan Abimanyu dan membuat Arjuna kehilangan fokus. (*/cor)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Andi Chorniawan