Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
KABAR tentang Arjuna yang akan mati obong tersebar di antara para prajurit, membuat semua prajurit Kurawa bergembira.
"Arjuna akan segera mati obong, dia sudah hampir masuk ke dalam pancaka kobaran api," teriak mereka.
Berita tersebut membuat mereka penasaran untuk menyaksikan akhir dari Arjuna.
"Paman Sengkuni, kenapa hari ini terasa begitu cepat berlalu? Kenapa sudah hampir gelap?" tanya Duryudana, penasaran.
"Benar, Anak Prabu, mungkin karena kita terlalu asyik menantikan kematian Arjuna, hahaha," jawab Sengkuni dengan tawa kejamnya.
Jayadrata, yang mendengar teriakan itu, segera merasa lega.
"Hai prajurit, lepaskan aku. Tidakkah kau lihat sudah menjelang petang? Itu berarti Arjuna sudah mati. Lepaskan aku!" serunya.
Para prajurit penjaga kemudian membebaskannya, dan Jayadrata bergegas ke medan perang.
"Dengan cepat masuklah ke dalam api itu, Arjuna. Sudah gelap, apakah kau satria yang mengingkari janji?" tantang Duryudana.
Namun, Kresna memberi nasihat pada Arjuna, "Selalu waspadalah, lihatlah di sekelilingmu, jangan sampai melewatkan kesempatan ini."
"Jika terlewat, maka kau akan menyusul Abimanyu. Itu bukan cara satria mati, tugasmu adalah membawa kemenangan bagi yang benar!"
Saat itu, Jayadrata muncul dan Arjuna dengan sigap memanah kepala Jayadrata yang langsung terpenggal.
Tiba-tiba, Kresna melepas cakra yang menyelimuti matahari, menunjukkan bahwa sebenarnya masih siang.
Duryudana terkejut melihat kepala Jayadrata terpenggal oleh panah Arjuna.
"Apa yang kau lakukan di sini, Jayadrata?"
Duryudana marah pada Jayadrata, dan menuding Kresna sebagai orang yang licik karena membohongi alam dan Kurawa.
Kresna hanya tersenyum dan berkata, "Kemenangan terjadi bagi mereka yang pintar menggunakan akal pikirannya." (*/cor)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Andi Chorniawan