Mengupas Seluk Beluk Pementasan Wayang oleh Ki Damar*
WAYANG merupakan seni pertunjukan tradisional yang memiliki makna filosofis, spiritual, dan sosial.
Dalam setiap pementasan wayang, berbagai properti digunakan untuk mendukung jalannya cerita.
Namun, di balik fungsi teknisnya, setiap properti tersebut memiliki simbolisme mendalam yang mencerminkan perjalanan hidup manusia, hukum alam, dan nilai-nilai kebijaksanaan.
Kelir atau Geber: Simbol Jagat atau Dunia Pewayangan
Kelir atau geber adalah layar putih yang menjadi latar pertunjukan wayang.
Terbuat dari kain katun yang tidak terlalu licin, kelir memungkinkan dalang mengendalikan bayangan wayang dengan lebih mudah.
Secara teknis, kelir memiliki beberapa bagian utama:
Bagian atas disebut pelangitan, yang melambangkan langit atau alam atas. Wayang yang menyentuh bagian ini biasanya sedang berada di kahyangan atau melayang di udara.
Bagian bawah disebut palemahan, yang berasal dari kata "lemah" (tanah), melambangkan bumi atau dunia tempat manusia berpijak.
Wayang yang ditancapkan di atas garis palemahan akan terlihat seperti mengambang, menggambarkan tokoh yang berada di angkasa atau di dimensi lain.
Bagian samping dijahit berlubang untuk memasukkan sligi, yaitu tiang kecil yang digunakan untuk menegangkan kelir.
Bagian atas dan bawah diperkuat dengan placak dan pluntur, yang berfungsi untuk menjaga ketegangan kain agar tetap rapi selama pertunjukan berlangsung.
Baca Juga: Setia Dampingi Prabu Baladewa, Tokoh Wayang Ini Termasuk Patih yang Disegani
Makna Filosofis Kelir
Kelir melambangkan alam semesta atau jagad raya, di mana kehidupan berlangsung.
Dalam pertunjukan wayang, bayangan tokoh-tokoh wayang yang dimainkan dalang menggambarkan perjalanan hidup manusia di dunia ini.
Kelir juga mengajarkan bahwa kehidupan adalah ilusi.
Bayangan yang tampak di kelir bukanlah sosok asli, melainkan hanya refleksi dari sesuatu yang dikendalikan.
Hal ini menggambarkan bahwa manusia sering terjebak dalam maya (ilusi duniawi) dan harus mencari kebijaksanaan untuk memahami kebenaran sejati.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani