Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Kartamarma Oncat Bagian 1, Tangis Raja Astina di Hari ke-18 Perang Baratayudha

Ki Damar • Senin, 17 Februari 2025 | 20:15 WIB
Ilustrasi lakon wayang Kartamarma Oncat
Ilustrasi lakon wayang Kartamarma Oncat

Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

MEMASUKI hari ke-18m Perang Baratayudha telah mencapai ujung pertumpahan darah. Kini, hanya tersisa Prabu Duryudana sebagai harapan terakhir Kurawa.

Patih Sengkuni, yang selama ini dikenal sebagai otak licik Kurawa, baru saja gugur di tangan Bima.

Darahnya masih segar, membasahi tanah Kurusetra yang telah menjadi ladang kematian.

Bima masih berdiri tegak menatap tubuh Sengkuni yang sudah tak bernyawa, seolah belum puas melampiaskan kemarahannya.

Matanya yang membara menyiratkan kebencian yang belum juga surut.

Seandainya mungkin, ia ingin Sengkuni hidup kembali agar bisa membunuhnya sekali lagi.

Di langit, burung-burung pemakan bangkai terbang berputar-putar, menanti saat yang tepat untuk menghampiri tubuh Patih Astina yang telah tewas mengenaskan.

Seandainya mereka bisa berbicara, mungkin akan terdengar suara:

"Pergilah, Bima. Tugasmu sudah selesai. Kini biarkan kami yang menggantikanmu, mengoyak tubuh penghasut yang telah membawa kehancuran ini."

Namun, burung-burung itu hanya bisa bersabar. Mereka menunggu Bima pergi, tetapi Bima masih belum beranjak.

Baca Juga: Kumat-Kumatan, Dua ODGJ di Ponorogo Kembali Dipasung, Dinkes Kesulitan Bujuk Pihak Keluarga

Ia menoleh berulang kali ke arah jasad Sengkuni, seakan masih belum percaya bahwa musuh bebuyutannya benar-benar telah mati.

Gada Rujakpolo yang besar masih tersandang di bahunya, menjulang tinggi seperti tiang penopang langit.

Tak lama kemudian, suara derap roda kereta terdengar dari kejauhan. Debu berhamburan saat kereta Prabu Duryudana berhenti di dekat tubuh Sengkuni yang terbujur kaku.

Sang raja turun dari kereta dengan wajah penuh duka. Melihat jasad pamannya yang mengenaskan, Duryudana tak kuasa menahan tangisnya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#kurawa #Baratayudha #Lakon #wayang #Duryudana