Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
"LALU apa yang harus aku lakukan sembari menunggu waktu itu? Dan bagaimana aku bisa mendapatkan kekuatan untuk membalas dendam?" tanya Kartamarma.
Duryudana tertawa kecil.
"Haha... Adikku, kakakmu ini bukan orang bodoh yang hanya mengandalkan Paman Sengkuni saja. Hai, Aswatama! Keluarlah!"
Kartamarma menoleh ke arah kanan, tepat pada posisi jam dua. Dari balik pepohonan, muncul sosok Aswatama, masih hidup dan berdiri tegap.
Kartamarma terbelalak. "Bagaimana bisa kau masih hidup, Aswatama?" tanyanya dengan curiga. Aswatama menyembah hormat sebelum menjawab.
"Ampun, Raden. Sejak kematian Bapa Durna, saya mendapat titah dari Sinuwun Duryudana untuk menunggu waktu yang tepat guna membalas dendam," ungkapnya.
"Hal yang sama kini dilakukan Sinuwun untuk Paduka Raden," jelasnya dengan suara mantap.
Duryudana mengangguk dan berkata penuh keyakinan.
"Maka dari itu, Aswatama dan Kartamarma, kalian harus bersembunyi terlebih dahulu. Pergilah dengan bekal apa pun yang masih tersisa," tutur Duryudana.
"Aku titipkan darah, daging, dan tulang saudara-saudaraku di tanah Tegal Kurusetra ini kepada kalian. Aku ingin kelak dendam ini menjadi luka yang dalam bagi Pandawa!"
Kartamarma menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca.
"Kakanda Prabu... Kenapa kau harus melakukan ini? Kenapa kita tidak lari bersama saja?" tanyanya lirih, penuh harap.
Duryudana tertawa keras, tapi suaranya sarat dengan kepedihan.
"Haha! Kartamarma, meskipun aku bukan orang yang terlalu sakti, bagiku kehilangan harga diri sebagai seorang prajurit jauh lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri."
"Pergilah! Jika kalian tetap di sini, aku sendiri yang akan menghabisi kalian!" imbuh Kurawa. Kartamarma tak kuasa berkata-kata.
Ia menatap wajah kakaknya untuk terakhir kali, sebelum berbalik dan berlari bersama Aswatama, meninggalkan Tegal Kurusetra yang telah menjadi lautan darah.
Tak sampai siang, kabar itu sampai ke telinga mereka. Duryudana telah tewas di tangan Bima.
Kartamarma mengepalkan tangan, matanya menyala penuh dendam.
"Akan datang waktuku... Pandawa akan merasakan kehilangan seperti yang kurasakan saat ini!" geramnya dalam hati, menanti saatnya membalas dendam.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani