Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
PERANG Baratayudha telah mencapai titik krusial.
Di medan Tegal Kurusetra, senopati utama pihak Kurawa telah ditetapkan, yaitu Basukarna, yang kini harus menghadapi adik kandungnya sendiri, Raden Arjuna.
Namun, di dalam hatinya, Basukarna merasa dilema. Ia sadar bahwa sebagai kakak, ia mencintai adik-adiknya, tetapi takdir menempatkannya di pihak yang berseberangan.
Di dalam pesanggrahan Kurawa, Prabu Salya, yang sekaligus mertua Basukarna, memperhatikan menantunya yang termenung.
"Basukarna, anakku, apa yang kau pikirkan? Bukankah ini saatnya berangkat ke medan perang?"
Basukarna menghela napas panjang, menatap Prabu Salya dengan ragu.
"Ayah Prabu, apakah aku terlihat jahat di mata adik-adikku? Apakah aku masih pantas disebut seorang kesatria?"
Salya menatap menantunya dengan tajam, mencoba memahami gejolak batinnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, ngger?"
"Aku telah turut membunuh banyak saudara Pandawa, Ayah. Abimanyu, Gatutkaca, Sanjaya, dan banyak lagi. Aku sendiri tidak tahu apakah aku ini benar-benar seorang kesatria yang baik atau hanya boneka di tangan Kurawa."
Prabu Salya menepuk pundak Basukarna dengan tegas, mencoba menguatkan hatinya.
"Basukarna, seorang kesatria hanya bertugas menjalankan kewajiban. Kita mengabdi kepada negara dan raja. Benar atau salah, bukan urusan kita. Kita hanya berjuang sesuai perintah pemimpin."
Namun, di dalam hati Basukarna, rasa bersalah terus menghantui.
Ia sadar bahwa perang ini bukan hanya pertarungan antara dua pihak, tetapi juga pertarungan dalam dirinya sendiri.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani