Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sungguh Istimewa, Puntadewa Kalahkan Lawan di Perang Baratayudha dengan Kedamaian, Pusaka Ini Kuncinya

Ki Damar • Jumat, 21 Februari 2025 | 00:30 WIB
Ilustrasi senjata Jamus Kalimasada
Ilustrasi senjata Jamus Kalimasada

Seri Cerita Senjata Wayang di Perang Baratayudha oleh Ki Damar*

JAMUS Kalimasada adalah pusaka sakti milik Prabu Puntadewa, raja Amarta sekaligus putra sulung Pandawa.

Pusaka ini sangat jarang dikeluarkan, karena Puntadewa adalah seorang ksatria yang lebih mengutamakan kedamaian daripada peperangan.

Sebagai sosok yang penuh kasih sayang, Puntadewa dikenal dengan julukan "Ajatha Satru", yang berarti "ksatria tanpa musuh".

Baginya, satu musuh terlalu banyak, sementara seribu teman masih terlalu sedikit.

Namun, meskipun bukan ksatria yang gemar bertarung, Puntadewa tetap memiliki senjata sakti yang hanya digunakan dalam keadaan mendesak—dan salah satunya terjadi dalam Perang Baratayudha.

Dalam pertempuran sengit di Tegal Kurusetra, Puntadewa terpaksa menghadapi uwaknya sendiri, yakni Prabu Salya dari Mandaraka.

Salya memiliki kesaktian luar biasa, salah satunya adalah Ajian Candabirawa.

Ajian ini mampu memunculkan ribuan Buto Bajang (raksasa kecil).

Setiap kali Buto Bajang dibunuh, tubuhnya akan berkembang biak menjadi lebih banyak, hingga akhirnya medan perang dipenuhi oleh pasukan raksasa yang tak bisa dihentikan.

Melihat kondisi yang semakin genting, Prabu Kresna turun tangan dan menyuruh Puntadewa maju ke medan perang.

Menurut Kresna, Ajian Candabirawa hanya bisa dihentikan oleh seseorang yang memiliki kesucian hati dan kedamaian jiwa.

Akhirnya, Puntadewa mengeluarkan Jamus Kalimasada.

Dengan kesaktian yang bersumber dari ketulusan dan keheningan batin, pusaka ini meruwat Buto Bajang satu per satu.

Bukannya dihancurkan, para Buto Bajang justru tersucikan dan kembali ke asalnya, hingga akhirnya Ajian Candabirawa pun musnah.

Tak hanya itu, Prabu Salya sendiri juga terkena wedaran (pengaruh spiritual) dari Jamus Kalimasada.

Hatinya yang penuh amarah perlahan luluh, hingga akhirnya ia menyerahkan diri pada kedamaian dan meninggal dalam ketenangan.

Dengan demikian, Jamus Kalimasada bukanlah pusaka yang membunuh lawan dengan kekerasan, melainkan dengan ketenangan, kedamaian, dan keheningan batin.

Pusaka ini menjadi simbol kesucian Puntadewa, serta kekuatan sejati yang tidak berasal dari kekerasan, melainkan dari kasih sayang dan kebijaksanaan.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Puntadewa #Pusaka #Baratayudha #wayang