Seri Cerita Senjata Wayang di Perang Baratayudha, oleh Ki Damar*
KUKU Pancanaka adalah senjata sakti yang dimiliki oleh Bima atau Werkudara, salah satu ksatria Pandawa.
Uniknya, senjata ini bukan benda terpisah, melainkan sudah menyatu dengan tubuhnya sejak lahir.
Menurut kisah dalam lakon "Bima Bungkus", kuku ini berasal dari gading Gajah Seno, hewan sakti peliharaan Batara Indra.
Saat Bima lahir dalam keadaan terbungkus selaput rahim yang sangat kuat, para dewa berusaha membedahnya dengan gading Gajah Seno.
Gading tersebut kemudian melebur dan menyatu dengan jari-jarinya, membentuk senjata sakti yang disebut Kuku Pancanaka.
Kuku Pancanaka bukanlah sembarang kuku—ketajamannya melebihi pisau yang telah diasah tujuh kali.
Metode bertarung Bima dengan senjata ini sangat brutal.
Dalam Perang Baratayudha, Bima kerap menggunakan Gada Rujakpolo sebagai senjata utama.
Namun, dalam pertarungan jarak dekat, Kuku Pancanaka lebih efektif untuk membunuh musuh dengan cepat dan kejam.
Secara filosofis, Kuku Pancanaka memiliki makna mendalam.
"Kuku" berarti "kukuh" atau keteguhan hati dan keyakinan.
"Panca" berarti lima, merujuk pada lima kekuatan utama.
"Naka" bisa diartikan sebagai emas atau tujuan yang luhur.
Senjata ini melambangkan pemusatan pikiran dan kesadaran, di mana seorang ksatria harus menggunakan kekuatan fisik dan mental secara seimbang untuk menumpas kejahatan.
Dalam perang besar Baratayudha, Bima menggunakan Kuku Pancanaka untuk membantai banyak Kurawa.
Beberapa di antaranya yang tewas mengenaskan oleh kuku sakti ini adalah:
Dursasana, yang ditikam perutnya hingga ususnya terburai—sebagai balas dendam atas kematian Abimanyu.
Sengkuni, yang tubuhnya dicabik-cabik oleh kuku ini hingga terbelah dua.
Kurawa lainnya, yang mati dengan cara serupa saat berhadapan langsung dengan Werkudara.
Dengan kekuatan dahsyatnya, Kuku Pancanaka menjadi salah satu pusaka paling mematikan dalam perang Baratayudha, menjadikan Bima sebagai ksatria yang paling ditakuti di medan perang.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani