Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Ngerinya Gada Pamecat Nyawa, Senjata yang Dipakai Resi Seta Mengamuk di Perang Baratayudha

Ki Damar • Jumat, 21 Februari 2025 | 01:15 WIB
Ilustrasi senjata Gada Pamecat Nyawa
Ilustrasi senjata Gada Pamecat Nyawa

Seri Cerita Senjata Wayang di Perang Baratayudha oleh Ki Damar*

GADA Pamecat Nyawa adalah senjata sakti milik Resi Seta, pendeta sakti dari Cemara Sewa yang juga merupakan putra Prabu Matswapati, Raja Wirata.

Pusaka ini hanya dikeluarkan ketika amarah Resi Seta memuncak, terutama dalam Perang Baratayudha.

Nama Pamecat Nyawa berasal dari kata "pamecat" yang berarti pecat atau keluar, dan "nyawa" yang berarti ruh atau kehidupan.

Maka, senjata ini dipercaya mampu mengeluarkan nyawa lawannya dalam sekali pukulan.

Siapa pun yang terkena pukulan di kepala, maka kepalanya akan pecah.

Jika terkena badan, maka tubuhnya akan remuk dan tulangnya hancur berkeping-keping.

Tidak ada satu pun prajurit yang berani menghadapi Resi Seta ketika ia mengamuk dengan gada ini.

Resi Seta yang awalnya seorang pertapa, turun ke medan perang setelah melihat kedua adiknya, Raden Utara dan Wratsangka, gugur di tangan musuh.

Utara tewas oleh Prabu Salya dari Mandaraka.
Wratsangka gugur di tangan Resi Durna.

Murka dan berduka, Resi Seta kehilangan kesabarannya.

Ia segera mengambil Gada Pamecat Nyawa dan mengamuk di tengah medan perang, membantai siapa pun yang ada di hadapannya, baik prajurit biasa maupun ksatria Kurawa.

Banyak pasukan Kurawa yang ketakutan dan memilih melarikan diri.

Namun, amarahnya semakin menjadi saat bertemu dengan Resi Bisma, Senopati Agung Kurawa.

Resi Seta dan Resi Bisma bertarung habis-habisan, menampilkan duel antara dua ksatria sakti.

Seta berhasil memukul Bisma hingga pingsan dengan Gada Pamecat Nyawa.

Alih-alih membunuh Bisma, Resi Seta justru menunggu lawannya sadar kembali.

Kesalahan besar terjadi—ketika Bisma bangun, kekuatannya meningkat berkali lipat.

Seta yang terbakar amarah menjadi tidak berpikir jernih.

Dalam duel berikutnya, Bisma berhasil mengalahkan Resi Seta dengan hujan panah yang menembus tubuhnya.

Resi Seta gugur di tangan Bisma, bukan karena kurang sakti, tetapi karena terlalu dikuasai emosi.

Ia melupakan strategi dan hanya mengandalkan kekuatan.

Bisma yang lebih tenang dan cerdik berhasil membalikkan keadaan.

Kematian Resi Seta menandai babak baru dalam perang Baratayudha, di mana pihak Pandawa mulai kehilangan banyak ksatria terbaiknya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#resi #senjata #Baratayudha #wayang