Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar
RADEN Antareja adalah putra kedua Raden Bima atau Werkudara, lahir dari pernikahannya dengan Dewi Nagagini, putri Batara Antaboga, sang dewa penjaga bumi dan raja naga.
Sebagai cucu Batara Antaboga, Antareja memiliki kesaktian luar biasa yang bahkan melebihi banyak satria lainnya.
Ia dapat hidup di dalam tanah.
Seperti para naga, Antareja mampu bergerak di dalam tanah layaknya manusia hidup di daratan.
Ia dapat bersembunyi, menyerang, bahkan berpindah tempat dengan sangat cepat tanpa diketahui musuh.
Kulitnya diberkahi dengan Napakawaca.
Seluruh permukaan kulitnya kebal terhadap segala jenis senjata, bahkan panah sakti dan senjata kadewatan sekalipun tak mampu melukainya.
Antareja juga memiliki bisa atau racun yang sangat mematikan. Sekali menyemburkan upas (racun) layaknya ular, musuh yang terkena akan langsung sekarat dan mati.
Kesaktian paling mengerikan yang dimiliki Antareja adalah kemampuannya untuk menjilat bekas telapak kaki musuhnya.
Siapa pun yang telapak kakinya dijilat pasti akan mati tanpa bisa disembuhkan, tak peduli sekuat apa pun orang tersebut.
Melihat kesaktian luar biasa ini, para dewa, termasuk Batara Guru, mulai mengkhawatirkan keseimbangan perang Baratayudha.
Para dewa merundingkan keberadaan Antareja dalam perang besar ini, karena jika ia ikut serta, perang suci antara Pandawa dan Kurawa tidak akan berlangsung adil.
Dengan kemampuannya, Antareja bisa dengan mudah menghabisi seluruh Kurawa tanpa memberi kesempatan bagi Pandawa untuk bertarung dan membuktikan perjuangan mereka.
Perang Baratayudha seharusnya menjadi ajang ujian bagi Pandawa, bukan hanya sekadar membantai lawan dengan kesaktian tanpa tanding.
Jika Antareja turun ke medan perang, kemenangan Pandawa sudah pasti terjadi dalam waktu singkat.
Hal ini bertentangan dengan hukum alam dan takdir yang telah digariskan.
Menyadari posisinya, Antareja dengan rela mengorbankan dirinya. Ia memilih untuk moksa, meninggalkan dunia fana dan kembali ke kahyangan bawah tanah bersama Batara Antaboga.
Keputusan ini menunjukkan kebesaran hati dan kesetiaannya kepada Pandawa, meskipun ia harus mengorbankan diri demi keseimbangan dunia.
Seandainya Raden Antareja ikut serta dalam Baratayudha, tak ada yang bisa menghentikannya, dan perang suci ini akan berakhir tanpa memberikan makna perjuangan bagi Pandawa.
Kisahnya menjadi bukti bahwa kesaktian luar biasa kadang justru menjadi beban, bukan keunggulan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani